SEI CMMI Maturity.. Apakah ada perusahaan IT Indonesia yang mendapatkannya?
Di sebelah ada tetangga yang ngebahas tentang SEI CMMI. Sama dengan penulis tersebut saya juga sebenarnya tidak terlalu mengerti apa dan bagaimana itu, hanya pernah membaca sekilas beberapa dokumennya. Bisa dikatakan itu semacam a set of guidelines and rules yang harus diikuti. Apa bedanya dengan sertifikasi ISO? Biarlah itu menjadi bahan untuk dipelajari lebih lanjut. Saat ini saya ingin lebih melihat bagaimana praktik software development yang banyak terjadi di perusahaan-perusahaan yang namanya IT company atau ISV (independent software vendor) atau software house di Indonesia. Inti pertanyaannya adalah sederhana, adakah perusahaan IT disini yang berusaha untuk bisa memenuhi prasyarat rating itu?
Saya dengar rumor kalau banyak perusahaan IT di India itu yang sudah mendapatkan rating CMMI Level 3 walaupun perusahaannya baru sebatas perusahaan yang kecil. Kok bisa yah? Kenapa bisa India begitu maju dalam dunia IT tetapi dalam dunia film atau tarik suara sepertinya film atau lagu India agak agak gimanaa gitu. Kenapa perusahaan IT disini tidak begitu ada yang menonjol sebagai tempat yang diidam-idamkan para programmer? Endy membahas tentang karyawan fenomena kutu loncat, menurut saya itu sangat menggambarkan kenyataan yang semua orang sudah tau alias rahasia umum. Tapi sepertinya perusahaan IT di Indonesia belum bisa digerakkan selain oleh revenue. Dengan kata lain motor penggerak perusahaan semata-mata hanyalah revenue. Tak heran kenapa para programmer lebih memilih mencari pekerjaan di luar negeri, Singapore atau Malaysia contohnya.
Balik lagi ke topik rating CMMI tadi, jangan-jangan pemilik perusahaan khususnya IT company tidak banyak yang tahu mengenai rating seperti itu? Jadi jangankan berusaha untuk bisa menciptakan company yang ‘hebat’ tapi lebih digerakkan oleh ilmu ekonomi natural yaitu bagaimana mendapatkan revenue sebanyak-banyaknya. Ini contoh yang berlebih kali ya…
Buat para programmer yang berpengalaman [berpengalaman pindah-pindah maksudnya], pasti sudah bisa mengidentifikasi company seperti itu. Salah satu ciri utamanya, turn-over karyawannya yang tinggi. Perhatikan di pasar, kalau nama company itu sering muncul minggu demi minggu menawarkan banyak posisi setiap tampil atau posisi yang sama, dijamin kantor yang tidak sehat. Boro-boro mengharapkan kondisi nyaman ala google bisa jadi mungkin baru setengah tahun Anda sudah berniat cari kantor baru.
Menarik sekali membaca Joel Spolsky dengan caranya membangun perusahaan dan mengembangkannya secara serius dan profesional tetapi tetap santai dan nyaman buat karyawannya. Saya tidak tau apakah dia berusaha untuk mendapatkan rating dari SEI atau tidak, tetapi yang jelas dia mempunyai suatu resep khusus yang tidak melulu mengenai revenue. Adakah kantor yang pemilik atau penggeraknya melakukan hal seperti itu disini? Saya pernah bekerja di perusahaan yang selalu ditempatkan di client tanpa sekali pun menginjakkan kaki di kantornya sendiri. Ada juga pengalaman yang lain, diterima di satu company tapi sejak awal langsung di outsource ke company lain yang lebih gede untuk ditempatkan di client peng-outsource ini. Jadi dalam satu waktu bekerja untuk 3 company sekaligus. Bukannya apa-apa, hanya kalau saja dari awal bisa mengetahui jelas seperti apa keadaan suatu company mungkin bisa membuat penawaran yang berbeda.
Pastilah menjadi impian semua programmer untuk menemukan tempat bekerja yang nyaman secara profesional yang tidak hanya berusaha untuk memerah karyawan tapi juga membesarkannya seperti penjelasan Mas Endy. Lalu setelah menciptakan keadaan di company yang sehat, profesional dan nyaman baru perusahaan mulai memasang target untuk mencapai standar-standar profesional tadi. Karena kalau dilihat rating seperti CMMI sangat menekankan kepada proses. Proses yang sudah jadi budaya dalam suatu perusahan pastilah didapat melalui jam terbang. Tidak mungkin sebuah kantor yang turn-over karyawannya tinggi bisa menciptakan budaya kerja yang sehat. Karena belum suatu proses diinternalisasi, karyawan sudah keluar. Mudah-mudahan di masa-masa mendatang dunia IT Indonesia lebih maju, bisa menciptakan company yang profesional modern dan humanis.
Sedikit tanggapan tentang posting tetangga ini, di akhir postingannya dia bertanya apakah perusahaan hanya akan menerapkan prosedur itu untuk satu proyek saja untuk memenuhi prasyarat rating atau di seluruh proyeknya? Opini saya mengatakan, kalau mereka bisa melihat dan merasakan efek positif dari rating ini, tidak mungkin mereka akan meninggalkannya atau hanya mengikuti untuk memenuhi syarat.
June 17, 2008 at 6:17 pm
[...] untuk lebih tepatnya dalam departemen Software Engineering Institute. Selain itu, ada juga blog ini dan ini yang membahas tentang [...]