Kubuntu saves me from Windows jail
Saya mungkin satu dari sekian banyak orang yang sudah muak dengan penjaranya Micro$oft Windows tapi mau beralih ke sistem operasi lain susah karena tidak bisa mengoperasikannya. Sudah lama mencoba-coba linux seperti RedHat, tapi tetap aja kurang nyaman untuk bisa beralih kesana. Padahal itu udah dari dulu nyobainnya… tetap nggak bisa untuk mengambil keputusan meninggalkan Windows.
Kenapa saya bilang penjaranya Micro$oft Windows? Karena memang analoginya benar-benar mirip penjara. Di penjara, setiap tahanan harus dan musti mengerjakan apa yang diperintahkan untuk dikerjakan. Kalau tidak, dihukum. Dengan menggunakan Windows, sudah dapat dipastikan kalau kita akan mengalami keharusan seperti ini :
1. Mengantisipasi virus bahkan sejak pertama install dan sepanjang penggunaannya
2. Dalam satu tahun dapat dipastikan untuk install ulang minimal sekali karena system yang sudah tidak stabil, registry yang kotor dan menumpuk.
Tanpa disepakati itu sudah satu paket yang harus diterima. Beda konsekuensinya dengan penjara tadi, kalau tidak melakukan dua hal itu dipastikan penggunaanya terganggu atau systemnya lambat. Satu hal lagi yang belakangan makin menggangu adalah ketakutan kalau aplikasi yg digunakan di komputer tersebut tidak legal alias bajakan. Kemana-mana membawa laptop yang diinstall dengan Windows bajakan pasti selalu was-was.
Sampai suatu hari saya mendapat live cd ubuntu versi 7.10 dari teman kantor, sekitar bulan Februari 2008 lalu. Saya disuruh cobain menggunakan live cd dulu, terus coba-coba dan ternyata tertarik. Live cd itu adalah sebuah cd yg bisa dijalankan untuk membooting komputer tanpa perlu menginstall. Grafis lagi seperti windows. Setelah coba-coba akhirnya saya putuskan untuk menginstalnya. Untungnya cara menginstalnya mudah, tinggal double click icon Install yang ada di desktop pas lagi jalanin live cd tadi. Posting selanjutnya saya akan tuliskan cara menginstalnya. Akhirnya sejak itu saya jatuh hati sama ubuntu dan seterusnya pake itu sampe sekarang. Semua yang saya butuhkan untuk bekerja sebagai seorang programmer java ada di ubuntu. Gratis, bisa didapat dari mirror lokal pula. Walaupun ubuntu secara default memberikan dual boot dengan windows saya yang lama, tapi saya hampir tidak pernah lagi memboot laptop dengan windows.
Setelah coba-coba dan semakin berkenalan, akhirnya saya memutuskan beralih ke kubuntu. Kenapa? Hanya karena window managernya terasa lebih nyaman daripada gnome bawaannya ubuntu. Selebihnya tidak ada perbedaan antara ubuntu dan kubuntu.
Sekarang saya bisa lega,
- tidak lagi takut diserang virus, trojan, worm dan sebagainya attack di windows
- tidak lagi takut kalau menginstall aplikasi yang tidak legal (karena untungnya saya bisa menemukan semua tools atau aplikasi yang saya biasa gunakan di windows baik aplikasi yang sama atau ekuivalennya.
- tidak lagi harus install ulang karena masalah-masalah registry yg kotor.
Jadi buat teman-teman yang masih bimbang bagaimana caranya meninggalkan Windows… pilihlah ubuntu atau variannya. Mudah, powerfull, cantik dan free. Apalagi yang bisa diharapkan dari sebuah operating system?
June 5, 2008 at 12:20 am
[...] sumber : arian75.wordpress.com [...]